Jumat, 21 Desember 2018

KURT LEWIN



KEHIDUPAN KURT LEWIN
Kurt Lewin (1890-1947) ialah anak kedua dari empat bersaudara. Kurt Lewin lahir di Mogilno, Poland. Meskipun ayah Lewin merupakan kepala dari suatu komunitas dimana ia bertani dan membuka took, ia pindah bersama keluarganya ke Berlin ketika berusia 15 tahun agar ia mendapatkan sekolah yang lebih layak. Kurt Lewin belajar psikologi di University of Berlin, dibawah Karl Stumpf, psikolog eksperimental. Lewin lulus pada tahun 1914 dan mengabdi pada militer Jerman pada perang dunia I.

Pada tahun 1930an, saat sedang berkungjung di Universitas Stanford, Lewin memutuskan menetap di Amerika dengan istrinya dan keempat anaknya. Lewin menjadi seorang professor setelah lulus dari Cornell University. Ia menjadi perintis dalam penelitian dan penelitian tentang dinamika grup. Lewin merupakan orang hebat yang telah menaruh dirinya dalam segala hal yang ia lakukan.

Bidang Teori Kurt Lewin
Ilmu fisik seperti fisika dan kimia sering mempengaruhi ilmu-ilmu baru seperti Psikologi dengan menyedakan cara baru pemikiran mengenai hal-hal baru yang dipelajari. Ilmuan EropaMichael Faraday, James Maxwell dan Heinrich Hertz membuat kemajuan yang luar biasa dalam memahami fenomena elektrik dan magnetic dengan mengembangkan cara matematis. Pemahaman ini, berujung kepada alat praktis seperti mesin elektrik dan generator.

Para Psikolog telah mencari untuk menyesuaikan pemikiran tentang jenis ini untuk memahami konsep psikologis. Pergerakan yang diketahui sebagai Psikologi Gestalt, mewakili salah satunya. Banyak hasil dari Psikologi Gestalt berfokus pada topik sebagai persepsi dan pemecahan masalah. Meskipun seorang psikolog bergabung dengan kelompok Gestalt, Kurt Lewin menaruh perhatian yang dalam dengan permasalah kepribadian, motivasi, dan perilaku social. Lewin memiliki aspek yang abstrak.

Kurt Lewin membantu mengembalikan analisis pengalaman subjektif untuk kehormatan spesifik, bersikeras, pada tahun 1920an, manusia dapat mengerti hanya melalui pengetahuan mereka tentang “ruang hidup/life spaces” dunia pribadi mereka. Kelly menekankan aspek pencarian pengetahuan kepribadian manusia, manusia dilihat sebagai ilmuan amatir, penasaran, dan penjelajah. Meskipun teori Lewin dan Kellly mengenai manusia sedikit berbeda, namun secara keseluruhan pandangan bahwa cara manusia merepresentasikan dunia kita kepada diri kita sendiri adalah kepentingan utama dalam susunan dan fungsi kepribadian kita.

DAFTAR PUSTAKA

Hall, Lindzey, Loehlin & Manosevitz. 1985. Introduction to Theories of Personality. United States of Amerika: John Wiley & Sons, Inc.





Review Jurnal


Judul   : Nilai-nilai Sosial Budaya Masyarakat Rantau Etnis Minangkabau
  Sebagai Pedagang di Pasar Al-Wathoniyah, Cakung, Jakarta Timur.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap mengapa masyarakat
  Minangkabau melakukan perantauan, dan mengapa masyarakakat
  Minangkabau di daerah rantau kebanyakan memilih untuk menjadi
  pedagang.

Metode : Studi Kasus.

Hasil dan Pembahasan
            Di dalam jurnal dikatakan bahwa budaya merantau yang dilakukan sejak lama oleh masyarakat  Minangkabau adalah sebuah tindakan yang dihasilkan atas dasar sistem nilai sosial budaya masyarakat etnis Minangkabau. Dalam adat budaya Minangkabau merantau merupakan suatu tradisi yang telah lama dilakukan oleh masyarakat, dan menjadi sebuah upaya untuk memperbaiki kondisi perekonomian mereka, juga mengangkat gengsi suatu keluarga tertentu.
            Budaya merantau dan berdagang menjadi identitas bagi masyarakat Minangkabau ketika anggotanya masuk ke dalam lingkungan sosial yang elemen masyarakatnya  cenderung heterogen. Hal yang dicari oleh para perantau ketika di awal masal perantauannya adalah pengalaman dan ilmu bekerja.
            Dalam masyarakat Minangkabau, terdapat pepatah yang mengakatan bahwa ketika bujang dan sudah tamat atau berhenti sekolah kemudian hanya berdiam diri di rumah, maka hal itu dianggap sebagai hal yang negatif. Oleh karena itu masyarakat Minangkabau bujang secara tidak langsung dipaksa untuk merantau walaupun tidak ada pemaksaan secara nyata.  Bagi orang Minang atau masyarakat pada umumnya, merantau dapat memberikan pelajaran kemandirian dan berpikir cepat karena mereka dituntut untuk dapat menghidupi dirinya sendiri di rantau orang.
            Niai sosial budaya dibentuk dan dibuat oleh masyarakat itu sendiri, kemudian dilestarikan, dan kemudian diyakini sebagai nilai-nilai leluhur yang diwariskan kepada generasi selanjutnya. Masayarakat Minangkabau mengupayakan untuk mewarisi nilai adat-istiadat yang mereka anut sebagai identitas bagi diri mereka sendiri di masyarakat luas.
            Setiap diri orang Minangkabau menyadari bahwa diri mereka merupakan bagian dari satu kesatuan dari sebuah identitas budaya Minangkabau, atas kesadaran diri tersebut mereka tergerak untuk menjaga identitas diri mereka dalam konteks sosial demi sebuah eksistensi di masyarakat.
            Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dikenal bahwa berdagang merupakan jiwanya masyarakat Minangkabau, dan hal ini menjadi sebuah identitas yang melekat pada diri masyarakat Minangkabau yang merantau ke daerah lain.
            Hal ini menjadi turun temurun dikarenakan ketika berdagang, mereka menurunkan keahlian berdagang kepada keturunan mereka dengan cara mempraktikan bagaimana cara mereka berdagang kepada anak mereka. Banyaknya masyarakat Minangkabau yang melakukan kegiatan berdagang di tanah rantau disebabkan dari nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat Minangkabau yang selalu ingin melakukan sesuatu secara mandiri dan tidak dibawah tekanan orang lain.
            Identitas sosial masyarakat Minangkabau yang dikenal gemar merantau dan berdagang juga dibentuk atas pola perilaku mereka yang di lihat oleh sudut pandang masyarakat secara umum yang kemudian penilaian dari luar tersebut mempengaruhi kelompok masyarakat yang dinilai dalam bagaimana memandang diri mereka sendiri. Istilah yang disebutkan orang Minangkabau bahwa berdagang merupakan jiwa orang Minang merupakan salah satu contoh bagaimana mereka memberikan atribut positif terhadap diri/kelompok mereka sendiri.
Selain membawa dampak positif terkait dengan budaya merantau dan berdagang etnis Minangkabau, terdapat dampak negatif yang dihasilkan dari hal tersebut. Seperti misalkan timbulnya sentimentasi yang timbul dari masyarakat daerah setempat dimana masyarakat Minangkabau pergi merantau. Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai sosok yang penuh perhitungan atau cenderung “pelit”. Hal ini didasari oleh budaya merantau yang menuntut mereka dapat hidup hemat di tanah rantau demi dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
            Dalam penerapan budaya di tanah rantau, ada dampak-dampak laten yang membahayakan kelangsungan budaya mereka di tanah asli mereka di Sumatera Barat, yaitu potensi pemudaran nilai-nilai sosial budaya asli etnis Minangkabau ketika banyak remaja etnis Minangkabau yang merantau ke kota-kota besar.

Kesimpulan
            Jurnal berikut sangat sesuai dengan hasil wawancara yang telah kelompok saya katakan yang mengatakan bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang pekerja keras dan bertanggung jawab, yang ditunjukkan melalui bagaimana usaha mereka untuk merantau demi memperbaiki perekonomian keluarga mereka dan menjadikan hal tersebut sebagai identitas diri mereka. Namun sayangnya budaya mereka juga dapat meluntur di tanah rantau dengan seiring berjalannya waktu yang dikarenakan oleh kontaminasi budaya yang ada daerah tersebut, mau tidak mau sedikit banyak mereka harus menyesuaikan diri dengan budaya daerah setempat.


Daftar Pustaka
Ramadhan, R., Maftuh, B., & Komariah, S. (2016). Nilai-nilai Sosial Budaya
Masyarakat Rantau Etnis Minangkabau Sebagai Pedagang di Pasar Al-
Wathoniyah, Cakung, Jakarta Timur.[Online] http://ejournal.upi.edu/ index.php/ sosietas/article/view/2873/1906. Diakses pada [16 April 2018].

Jumat, 22 Agustus 2014

Cinta Sempurna (?)

Aku ingin dicintai dengan sempurna. Bukan hanya aku, semua orang ingin dicintai dengan sempurna. Tapi, mungkin jika aku ingin dicintai dengan sempurna, maka aku juga harus mencintai dengan sempurna. Tapi, adakah cinta yang sempurna? Mungkin hanya cinta Allah kepada hambanyalah yang sempurna. Ah... Tapi kurasa cinta yang sempurna juga ada antara sesama manusia. Tapi tentu tidak sesempurna cinta Allah kepada hambanya, cinta Rasul kepada umatnya, cinta orangtua kepada anaknya. Tetapi, aku juga ingin dicintai dengan sempurna oleh dia-- seseorang yang aku cinta. Mengapa seseorang itu tak pernah mencintaiku dengan sempurna? Bahkan mungkin ia memang tak pernah mencintaiku. Kurasa aku telah mencintainya dengan sempurna. Yah, tapi aku memang tak tau bagaimana atau sampai mana batasan sempurna itu. Mungkin sempurna yang aku maksud tak mempunyai arti apa-apa. 
Satu hal lagi. Mengapa kita selalu ingin cinta kita dibalas oleh orang yang kita cintai? Tentu saja karena hal itu tak akan pernah membuatmu merasa sakit. Tapi, tak banyak hal seperti ini terjadi. Kebanyakan orang mencintai orang yang tidak mencintainya, dan mengabaikan orang yang mencintainya dengan sempurna. Hhhh... Selalu saja begitu. Aku tau diluar sana ada orang yang mencintaiku, tetapi aku tak tau ntah cinta itu sempurna atau tidak. Tapi aku harap dia mencintaiku dengan sempurna dan aku juga bisa mencintainya dengan sempurna. Semoga...

Kamis, 21 Agustus 2014

Pantulan...

"Disini,Kembalikau hadirkan ingatan yg seharusnya kulupakanDan kuhancurkan adanya..."Terdengar suara rocknya vokalis Rocket Rockers dari mp3 hapeku. Sambil bersenandung kecil kubuka jendela kamarku, ah.. ternyata pagi ini berkabut, batinku. Kuhirup udara pagi ini sedalam-dalamnya hingga memenuhi paru-paruku. Akankah kulihat lagi pantulan itu pagi ini? tanyaku dalam hati. Tentu saja! kecuali dia berpindah tempat. "nak, mau berangkat jam berapa? Sudah siang begini kok belum berangkat juga?" teriak mama dari balik daun pintu kamarku. Akupun keluar dan segera berangkat kesekolah. Seperti biasa--aku sampai disekolah, melewati meja piket, berharap hantu item kribo dengan baju pegawai tak melihat kaus kaki abu-abuku. Dan... Alhamdulillah pagi ini aku lolos lagi hehe... "lalala *#@!%&^$#? " ya seperti biasa suara "merdu" anak PA didepan aula membuat suasana pagi menjadi kian suram. Saat aku tiba dikelas bertepatan dengan suara bel tanda masuk. Saat guru bahasa inggrisku masuk "stand up please!" kata ketua kelasku memerintah. Daaaaan akhirnya aku kembali melihat pantulan itu lagi, hahaha.........